Cari Info Peluang Usaha di Google

Memuat...

2006-06-11

Bencana Sampah Bandung Lahirkan Industri Pengolah Sampah




Berburu Kompos
Oleh DEWI "DEE" LESTARI

SATU pagi saya pergi ke Tani Sugih, toko alat pertanian di Jalan Pasteur. Gara-garanya, saya membaca pamflet mesin pengolah sampah yang mencantumkan toko itu sebagai retailer. Saya pikir, inilah kesempatan untuk menjadi warga Bandung yang baik, yang berusaha proaktif menangani masalah sampah yang semakin tidak masuk akal ini.
Penjaga toko itu menggelengkan kepala ketika saya menanyakan keberadaan mesin pengolah sampah. Tidak ada, katanya. Tidak pernah jual. Lalu saya menanyakan wadah untuk pengomposan. Tidak ada juga, katanya. Lalu saya menanyakan toko sejenis lainnya di Bandung Raya ini. Tidak ada yang lain, katanya lagi. Dia lalu menunjukkan iklan produsen alat-alat tani di majalah Trubus, semua beralamatkan di Bogor.
Spontan saya berujar, "Yang punya masalah sampah kan Bandung, kok yang jualan malah Bogor?" Respons yang saya dapat berikutnya adalah senyum asam.
Pulanglah saya gemas dan penasaran. Target saya hari itu adalah berburu info tentang kompos. Perburuan diawali lewat internet dengan kata kunci antara lain: pengolahan-sampah-wadah-kompos. Membanjirlah puluhan ribu artikel. Dalam satu hari, excitement saya pada kompos berubah menjadi exhaustion. Lelah mata, dan lelah hati, karena ternyata sudah sangat banyak orang yang peduli, punya ide, punya metode, tapi dalam keseharian tidak saya rasakan gaung itu. Tidak di jalan - yang masih berhiaskan sampah di sana-sini. Tidak juga di media massa - tenggelam dalam berita politik, kriminal, bencana, dan gosip artis. Tidak juga di toko Tani Sugih.

Saya jadi berpikir, apa yang salah? Mengapa masalah sampah, meski tercium bau busuknya, kita pelototi gunungannya, kita gerutukan setiap hari, tetap tidak cukup untuk mengubah prioritas kita - monster konsumtif yang cuma tahu beli, pakai, buang, tanpa berpikir semua itu akan menikam kita balik dengan timbunan kebusukan. Kita terus berlindung di balik ketidakacuhan, di balik truk kuning yang akan mengangkut sampah kita ke satu tempat yang tak terlihat.

Untungnya satu nama keluar. Saya temukan perusahaan di Jalan Pungkur yang menjual wadah pengomposan. SATU. Dengan kata kunci "composting bins" saya menemukan ratusan produsen di luar negeri yang memproduksi barang sama dengan aneka warna dan model elegan. Bukti bahwa Indonesia memang tertinggal tiga abad dalam masalah penanganan sampah. Land-filling adalah metode buang sampah Eropa abad 18. Hari ini, masyarakat Eropa sudah punya aneka pilihan composting bin yang lucu-lucu. Bandung, setidaknya hasil perburuan saya, hanya punya satu. Sisanya adalah land-filling yang sudah putus asa dan tak tahu malu.
Kota Bandung pada ulang tahunnya mengadakan lomba merangkai bunga. Saya curiga yang punya ide mabuk halusinogen dan merasa Bandung ini masih Kota Kembang, atau terjebak di mesin waktu lalu mendarat di Parijs Van Java. Kenapa bukannya mengadakan lomba mendesain wadah pengomposan? Atau lomba pengolahan sampah? Tidakkah itu lebih realistis dan berguna? Supaya kita punya banyak sarana dan pilihan untuk berbuat sesuatu, supaya yang tinggal di rumah susun maupun rumah ala Victorian bisa menyesuaikan composting bin dengan kemampuan dan selera estetika masing-masing. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat tahu bahwa pemerintah kota ini berupaya mencerdaskan mereka, dan bukan malah mendua dengan rangkaian bunga di satu sisi dan gunung sampah di sisi lain.

Sulit untuk menyerukan cinta lingkungan apabila kita, siapa pun dan apa pun jabatan kita, tidak melaksanakan apa yang kita imbau sendiri. Sebaliknya, akan lebih mudah bagi masyarakat jika para pimpinan mereka maju dan mencontohkan bagaimana cara mengolah sampah di rumahnya terlebih dulu.
Seharian itu saya lalu berkhayal. Bandung betulan jadi bermartabat. Mengakui kesalahannya, lalu memperbaikinya. Kota ini bukan cuma jadi tempat orang Jakarta menghabiskan uang di factory outlet. Kota ini diacak-acak bukan hanya demi sekotak brownies kukus atau pisang keju. Namun kota ini menghasilkan produk-produk ekologis yang praktis dan terpakai oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena meski overdosis toko baju, kota ini masih punya harta sesungguhnya: seniman-seniman yang jenius dan kreatif, para pemikir dari ITB, LIPI, Unpad, dsb.
Untuk beban moral sepotong artikel ini saja, saya harus melakukan perburuan sengit, dan akhirnya mendaftarkan diri ikut pelatihan membuat kompos. Saya pun tersadar, untuk menjadi warga yang baik, seringnya bukan kemudahan dan insentif yang didapat, melainkan usaha yang ekstra keras.

Tapi apakah itu setimpal? Saya pikir, iya.
Perbuatan konkretlah yang menjadikan seseorang, atau sebuah kota, bermartabat. Bukan slogan. Bukan jumlah gedung mewah. Bukan jajanan lezat. Suka tak suka, sampah telah menawarkan pilihan pada Bandung: membusuk bersamanya di jalan raya, atau bermetamorfosa menjadi kompos di perut Bumi Pertiwi.***
Penulis, artis dan novelis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Info Bisnis Populer

Selamat Membaca !

Sumber kliping Kencana Newsletter ini berasal dari berita media cetak harian umum (HU) Pikiran Rakyat, Republika, Bisnis Indonesia, Galamedia, Sindo, Tribun, Batam Pos, Tabloid Kontan, Tempo, dan lainnya.

Semoga tetap semangat dan selamat pagi !

Admin

Menerima Penghargaan

Menerima Penghargaan
Sonson Garsoni berkesempatan menerima penghargaan nasional Dharma Karya Kencana (DKK) yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada Harganas di Ambon

Presentasi pada Seminar Pupuk Di Sahid Makassar Hotel

Presentasi pada Seminar Pupuk Di Sahid Makassar Hotel
Seminar pupuk menampilkan Ir Sonson Garsoni dengan topik : " Penggunaan Pupuk Majemuk Tablet (PMLT) Gramalet Pada Pertanian Nasional" di Hotel Sahid Makassar, 1977.

Menjalin hubungan baik dengan HKTI Nasional

Menjalin hubungan baik dengan HKTI Nasional
Sonson Garsoni bersama Ir Siswono Yudohusodo dalam suatu Forum Seminar Pemberdayaan Petani

Menjadi nara sumber Dialog Interaktif Pertanian

Menjadi nara sumber Dialog Interaktif  Pertanian
Sonson Garsoni ketika menjadi narasumber pada Diskusi Interaktif : " Ekses Formalin dan Usaha Mikro" di Bandung TV, 2006

Memasarkan Teknologi Olah Sampah

Memasarkan Teknologi Olah Sampah
Sonson Garsoni ketika bersama Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, M.Si mengunjungi stand pameran peserta Gelar Dagang Harganas XIII di Bogor, 2006

Menyampaikan Ide ke publik

Menyampaikan Ide ke publik
Berbagai ide dan gagasan unsur masyarakat selayaknya disampaikan kepada pejabat berwenang yang tepat. Jika beliau-beliau masih belum berkenan, padahal kita yakini baik, mengapa tidak kita jadikan saja isyu publik lewat media masa. Seringkali, karena opini publik, kebijakan terlahir dan memberi manfaat kepada masyarakat luas.

Seminar Nasional Perkebunan

Seminar Nasional Perkebunan
Seminar ini diselenggarakan di Hotel Homann Bandung, 99 dengan pembicara Ditjen Perkebunan dan Ir Sonson Garsoni

Memimpin CVSK Annual Meeting

Memimpin CVSK Annual Meeting
Sonson Garsoni memimpin Rapat Kordinasi dengan agen distributor CVSK di Kaisar Hotel Jakarta, 2006

Menjadi nara sumber berbagai Seminar

Menjadi nara sumber berbagai Seminar
Bertempat di Grand Hotel Lembang, berlangsung seminar : " Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN)" menampilkan Ir Sonson Garsoni ( Kadin Jawa Barat) sebagai nara sumber.

Menyampaikan usulan Menghadap Presiden RI Soeharto

Menyampaikan usulan Menghadap Presiden RI Soeharto
Sonson Garsoni mendapat amanat ke Istana Negara mewakili komunitas bisnis pertanian Jawa Barat, 1996

Menyelenggarakan Lokakarya

Menyelenggarakan Lokakarya
Gubernur HR. Nuriana dan Ir Sonson Garsoni ketika Lokakarya Gerak Tanam Pangan Th 1998 di Gd Pakuan Bandung.

Menjadi nara sumber seminar Bisnis Indonesia

Menjadi nara sumber seminar  Bisnis Indonesia
Seminar Nasional : "Memberdayakan Petani Lewat Koperasi" dilaksanakan di Hotel Preanger Bandung, 2005, menghadirkan pembicara : Prof Dr Bungaran Saragih, Ir Siswono Yudohusodo dan Ir Sonson Garsoni ( Kadin Jawa Barat)

Dewi "Dee" Lestari

Dewi "Dee" Lestari
Artis - yang juga Novelis - Dewi Lestari bertandang ke CVSK -produsen komposter Bio Phoskko. Dewi, dikenal banyak membuat artikel tulisan tentang lingkungan dan pengelolaan sampah - dengan sukarela mengolah sampah di rumah dan lingkungan sekitarnya di Bandung.

Menjadi delegasi pada Working Group On Agricultural (WGA) Forum

Menjadi delegasi pada Working Group On Agricultural (WGA) Forum
Menteri Pertanian RI, Prof. Dr. Ir. Sjarifuddin Baharsyah bersama Ir Sonson Garsoni dalam Working Group On Agricultural - Forum Pertanian Indonesia dan Belanda

Memimpin Asosiasi Pupuk APPKMI Jawa Barat

Memimpin Asosiasi Pupuk  APPKMI Jawa Barat
Bertempat di Graha Kadin Kota Bandung berlangsung Musyawarah APPKMI ( Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia) Jawa Barat, 2007. Tampak hadir membuka Ir Lex Laksamana- Sekda Prov Jawa Barat mewakili Gubernur.

Info Bisnis on Facebook

KencanaOnline.Com on Facebook